Showing posts with label Kalkuzhari. Show all posts
Showing posts with label Kalkuzhari. Show all posts

Friday, November 20, 2015

Kematian

Standard
Assalamualaikum.
Jika kita mendengar kematian rasanya menakutkan, akan tetapi itu sudah kewajiban kita .Kematian alah suatu proses perpindahan dari Dunia yang fana ini menuju alam yang abadi yaitu Akhirat.Kematian yang pasti akan di alami oleh setiap mahluk hidup, tanpa kecuali cepat atau lambat. Dan datangnya tidak ada yang mengetahui atau di duga ,sudah dekat atau masih jauh,tidak perduli silsilah, pangkat dan derajat.Setiap kita melihat kematian terkadang hati ini merasa ciut mengapa,?sebab kita seringkali jauh terhadap :* Maha pencipta yaitu Allah SWT* Belum siapnya bekal akhirat* Rasa beratnya terhadap dunia. Kematian adalah pemutusan amal, megapa..?Waktu kematian itu tiba, putuskah kesempatan mahluk hidup untuk mencari dan mengumpulkan amal sebanyak mungkin untuk bekal di Akhirat. Firman Allah : وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَTiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya ( al-A’raaf - 34) Bila kita selalu mengingat akan kematian itu suatu pertanda akan peningkatan imandan kecerdasan iman.Rosululloh Shollalluhu Alaihi wa Alihi wa Sallam ,suatu ketika pernah di tanya :“ Orang beriman yang bagaimana yang paling cerdas wahai Rasululloh.?“ Yaitu yang paling banyak ingat kematian dan paling banyak persiap untuk hari setelah kematian.”Beliau ditanya juga tentang ayat ini “
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman
(Al-An’Am : 125), “Bagai mana Alloh “melapangkan dadanya” wahai Rosululloh ?”
Tanya seorang sahabat. Beliau menjawab : “ Suatu cahaya yang di sorotkan kepadanya, lantas ia menjadi merasa lapang dan tidak ada kesempitan”. Mereka bertanya lagi;
Apakah ada tanda yang bisa dikenali ?” Beliau bersabda, ” Cendrung kepada tempat tinggal keabadian (surga), menjauhi tempat tinggal penuh tipu daya (neraka), dan mempersiapkan menuju kematian sebelum menui kematian.” ( HR. Sbdurrazq, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi hatimndalam riwayat yang lain)
Diriwayat yang lain :
“Perbanyaklah kalian mengingat mati, sebab seorang hamba yang banyak mem\ngingat mati, mala Alloh akan menghidupkan hatinya, dan Alloh akan meringankan baginya sakitnya kematian.”
(HR.Dailami).
Kita harus bersyukur sebagai Umat Muhammad ( Islam) .
Firman Alloh,”
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (ALI-Imran :120)
Untung menjaga rasa takut akan kematian dengan memperbanyak mengingat kematian dan bertaubat dan selalu mengikuti perintah-NYA dan manjauhi larangan-NYA, tidak hanya meminta kepada-NYA.
kita harus lebih sering mengingat kematian karen bagaimana pun dia akan datang, singkapi kematian dengan iman, dan perbanyaklah kita bersyukur atas apa yang Alloh berikan kepada kita untuk bekal kita nati di Akhirat.
Disusun Oleh : Ari Mslm.

Berkaktilah pada kedua orang tua

Standard
 
Bersilaturrahim dan berbuat baik kepada orang tua merupakan ajaran yang menjadi ketetapan Kitabullah Al-Qur'an dan Al-Hadits. Allah Ta'ala berfirman: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya". (Al-Isra': 23)

Wa Qadha Rabbuka berarti suatu perintah yang lazim tidak bisa ditawar-tawar lagi dan Alla Ta'budu Illa Iyahu berarti perintah ibadah yang bersifat individu.

Allah menghubungkan beribadah kepada-Nya dengan berbuat baik kepada orang tua menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang tua dan birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua) di sisi Allah.

Secara naluri orang tua dengan suka rela mau mengorbankan segala sesuatu untuk memelihara dan membesarkan anak-anaknya dan anak mendapatkan kenikmatan serta perlindungan sempurna dari kedua orang tuanya.

Seorang anak selalu merepotkan dan menyita perhatian orang tuanya dan tatkala menginjak masa tua mereka pun tetap berbahagia dengan keadaan putra-putrinya, akan tetapi betapa cepat seorang anak melalai-kan semua jasa-jasa orang tuanya, hanya disibukkan dengan isteri dan anak sehingga para bapak tidak perlu lagi menasihati anak-anaknya hanya saja seorang anak harus diingatkan dan digugah perasaannya atas kewajib-an mereka terhadap orang tuanya yang sepanjang umurnya dengan berbagai kesulitan dihabiskan untuk mereka serta mengorbankan segala yang ada demi kesenangan dan kebahagiaan mereka hingga datang masa lelah dan letih.

Maka berbuat baik kepada kedua orang tua menjadi keputusan mutlak dari Allah dan ibadah yang menempati urutan kedua setelah beribadah kepada Allah: "Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliha-raanmu". (Al-Isra': 23)

Kibar atau kibarul sin artinya berusia lanjut, umur sudah mulai menua, punggung sudah mulai membung-kuk dan kulit sudah mulai keriput. 'Indaka yang berarti pemeliharaan yaitu suatu kalimat yang menggambarkan makna tempat berlindung dan berteduh pada saat masa tua, lemah dan tidak berdaya.

Allah Ta'ala berfirman: "Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka". (Al-Isra': 23)

Seakan-akan Allah berfirman; Bersopan santunlah kamu kepada orang tua! Dengan demikian ayat tersebut mengajarkan sikap sopan agar seorang anak tidak menunjukkan sikap kasar serta menyakitkan hati atau merendahkan kedua orang tua. Allah Ta'ala berfirman: "Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia".

Ini tingkatan yang lebih tinggi lagi yaitu keharusan bagi anak untuk selalu mengucapkan perkataan yang baik kepada kedua orang tua dan memperlihatkan sikap hormat serta menghargai. Allah Ta'ala juga berfirman: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang".

Seolah-olah sikap rendah diri memiliki sayap dan sayap tersebut direndahkan sebagai tanda penghormatan dan penyerahan diri dalam arti sikap rendah diri yang selayaknya diperintahkan kepada kedua orang tua, seba-gai pengakuan tulus atas kebaikan dan jasa-jasanya.

Allah Ta'ala berfirman: "Dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku kasihilah me-reka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Al-Isra': 24)

Penyebutan kondisi masa kecil yang lemah yang membutuhkan perawatan dari kedua orang tua meng-ingatkan kepada kondisi yang sama yang sedang dialami orang tua tatkala menginjak lanjut usia yang selalu membutuhkan kasih sayang dan perawatan semisal. Lalu memohon kepada Allah agar bisa memberi belas-kasih kepada mereka berdua sebagai pengakuan atas kekurangan dalam memberi kasihsayang secara sem-purna dan hanya Allahlah yang bisa memberi kasih-sayang atau perawatan yang sangat sempurna serta hanya Dialah yang mampu membalas semua kebaikan dengan sempurna yang tidak mungkin bagi anak untuk melakukannya.

Bukti kasih sayang Allah banyak sekali yang tampak pada makhluk lain. Suatu contoh cahaya mata-hari yang menyinari alam semesta, udara yang dihirup manusia melalui proses paru-paru, air berfungsi untuk minum, masak dan menyiram tanaman dan kasih sayang ibu terhadap anaknya yang muncul secara fitrah sebagai bukti nyata kasih sayang Allah Rabb semesta alam.

Orang mulia dan baik kepada kedua orang tua akan selalu tahu kedudukan serta kemuliaan orang tua, dia merasakan tatkala mencium tangan ibu atau bapak-nya seolah-olah dia bersujud dengan ruh dan perasaan-nya laksana bersujud kepada Allah, dia mendapatkan jati diri yang sebenarnya sebagai suatu rahasia dalam kehidupan. Semua itu menjadi bukti penghargaan dan penghormatan kepada kedua orang tua. Allah Ta'la berfirman: "Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya . Dan jika kedua-nya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti ke-duanya". (Al-Ankabut: 8).

Orang tua adalah kerabat terdekat yang mempu-nyai jasa yang tidak terhingga dan kasih sayang yang besar sepanjang masa sehingga tidak aneh bila hak-haknya juga besar.

Seorang anak wajib mencintai, menghormati dan memelihara orang tua walaupun keduanya musyrik atau berlainan agama, keduanya berhak untuk diberi kebaik-an dan pemeliharaan bukan mentaati dan mengikuti kesyrikan atau agamanya. Allah Ta'ala berfirman: "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang ber-tambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun." (Luqman : 14)

Disebutkan berulang-ulang serta banyak sekali wasiat untuk seorang anak agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya di dalam Al-Qur'an dan wasiat Rasul shallallahu 'alaihi wasallam dan tidak disebutkan wasiat orang tua untuk berbuat baik terhadap anaknya kecuali sedikit.

Karena kebaikan dan pengorbanan orang tua berupa jiwa, raga dan kekuatan yang tak terhitung tanpa berkeluh kesah dan meminta balasan dari anaknya, secara fitrah(naluri) sudah cukup sebagai pendorong kedua orang tua untuk bersikap demikian tanpa ditekan dengan wasiat. Adapun anak harus selalu diberi wasiat dan diingatkan agar senantiasa ingat akan jasa-jasa orang yang selama ini telah mencurahkan jiwa dan raga serta seluruh hidupnya dalam membesarkan dan mendidiknya. Apalagi seorang ibu selama mengandung mengalami banyak beban berat sebagaimana firman Allah Ta'ala (ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah), ibu lebih banyak menderita dalam membesarkan dan mengasuh anaknya, dan penderitaan di saat hamil tidak ada yang bisa merasakan payahnya kecuali kaum ibu juga.

Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Buraidah dari bapaknya bahwa ada seorang lelaki yang sedang thawaf sambil menggendong ibunya, lalu dia bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: " Apakah dengan ini saya sudah menunaikan haknya?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Belum! Walaupun se-cuil".

Dari Al-Miqdam bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah berwasiat agar kalian berbuat baik kepada ibu-ibumu, sesungguhnya Allah berwa-siat agar berbuat baik kepada bapak-bapakmu dan sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian agar berbuat baik kepada sanak kerabatmu". (Dishahih-kan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah)

Anak adalah bagian hidup dan belahan hati orang tua, kasih sayangnya mengalir di dalam darah daging keduanya.

Dari 'Aqra' bin Habis sesungguhnya dia melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mencium Hasan, lalu dia berkata: "Sesung-guhnya saya mempunyai sepuluh orang anak dan saya tidak pernah mencium seorangpun di antara mereka. Beliau bersabda: "Sesungguhnya barangsiapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayang". (Muttafaq 'alaih)

Al-Ahnaf bin Qais rahimahullah ditanya tentang masalah sikapnya terhadap anak, maka beliau menjawab: Anak adalah buah hati, belahan jiwa dan tulang punggung, kita rela terhina bagaikan bumi rela diinjak demi mereka dan bagaikan langit yang siap menaungi hidup mereka dan kita siap menjadi senjata pelindung bagi mereka dalam menghadapi marabahaya. Jika mereka minta sesuatu kabulkanlah dan bila marah cari sesuatu yang menye-nangkan hatinya, maka mereka akan membalas kasih sayangmu dan berterimakasih atas setiap pemberian-mu. Janganlah kalian merasa berat dan terbebani oleh anakmu, sebab mereka akan mengacuhkan hidupmu dan menghendaki kematianmu serta segan mendekati-mu.

Apabila seorang anak di mata orang tua keduduk-annya seperti itu, seharusnya anak menempatkan posisi orang tua tidak kurang dari itu dalam menghormati dan memuliakan orang tua mereka sebagai bukti balas budi dan pengakuan terhadap kebaikan yang telah didapat dari orang tua. Di samping tetap melestarikan kewajiban silaturrahim kepada mereka berdua sesuai ketentuan Kitabullah.

Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tiga macam doa yang pasti terkabulkan; doa orang tua untuk anaknya, doa orang musafir dan doa orang yang teraniaya". (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, Al-Albani).

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meminta izin untuk ikut serta berjihad, maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Dia berkata: "Ya, masih hidup". Beliau bersabda: "Maka berjihadlah dalam (menjaga) keduanya".

Dari Abu Bakrah berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maukah kalian aku ceritakan tentang dosa yang paling besar?" Kami menjawab: "Ya wahai Rasu-lullah". Beliau bersabda:
"Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." Beliau waktu itu bersandar, maka terus duduk dan bersabda: "Ketahuilah, dan perkataan dusta". (Shahihul Jami')

Dari Abdullah Ibnu Mas'ud berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: Apakah amal yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab: "Shalat pada waktunya." Saya bertanya: "Lalu apalagi?" Beliau bersabda: "Berbuat baik kepada orang tua". Saya bertanya: "Kemudian apalagi?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersab-da: "Jihad di jalan Allah". (Muttafaq 'alaih)

Dari Jabir bin Abdullah sesungguhnya seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai harta dan anak, dan bapak saya meng-inginkan hartaku. Maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu". (Muttafaq 'alaih).

Dan petunjuk birrul walidain yang terbaik adalah sikap yang telah ditunjukkan oleh para nabi 'alaihimus shalatu wa salam sebagai simbol anutan dan petunjuk bagi setiap manusia.

Nabi Ismail 'alaihi salam berkata dan ucapannya diabadi-kan dalam firman Allah Ta'ala: "Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar". (Ash-Shafaat: 102).

Nabi Nuh 'alaihi salam berkata juga dan ucapannya dise-butkan dalam firman Allah Ta'ala: "Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman". (Nuh: 28)

Nabi Isa 'alaihi salam juga disifati oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya: "Dan berbakti kepada ibuku". (Maryam: 32)

Nabi Yahya 'alaihi salam juga disifati oleh Allah Ta'ala demikian yang disebutkan dalam firman Allah: "Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka". (Maryam: 14)

Betapa indahnya bila seorang muslim bisa mencontoh dan mengikuti jejak para nabi.

Wahai anakku siang malam sepanjang umurku, aku korbankan untukmu agar kalian berbahagia, kedua orang tuamu letih dan menderita serta hati gundah bila engkau sedang sakit dan wajahmu pucat. Anakku tercin-ta. Itulah kalimat yang sering diulang-ulang oleh seorang ibu atau bapak.

Wahai seorang anak! Ingatlah jasa kedua orang tuamu yang besar tatkala engkau masih berada dalam kandungan, di saat kau masih bayi dan setelah kau menginjak remaja hingga engkau menjadi orang dewasa. Sekarang tiba saatnya kedua orang tuamu membutuh-kan kasih sayang dan perhatian darimu. Sementara engkau hanya sibuk mengurusi isteri dan anak-anakmu hingga orang tuamu engkau abaikan, padahal orang arab jahiliyah dulu menganggap aib dan harga diri jatuh jika ada seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Peribahasa-peribahasa Arab menceritakannya, menuduhnya dengan gambaran yang sangat jelek sekali bahkan memberinya julukan dengan julukan-julukan yang sangat keji. Akan tetapi kita membaca banyak cerita di zaman sekarang tentang cerita anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.

Abu Ubaidah At-Taimy dalam kitabnya, Al-'Aqaqah wal Bararah menuturkan beberapa contoh orang-orang yang berbuat baik kepada kedua orang tuanya dan beberapa contoh orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Seorang dari bani Qurai' bernama Murrah bin Khattab bin Abdullah bin Hamzah pernah mengejek dan terkadang memukul orang tuanya, se-hingga bapaknya berkata:

Saya besarkan dia tatkala dia masih kecil bagaikan anak burung yang baru lahir yang masih lemah tulang-belulangnya. Induknya yang menyuapi makan sampai melihat anaknya sudah mulai berkulit sempurna.

Dan contoh lain yang durhaka kepada orang tua-nya adalah putra Umi Tsawab Al-Hazaniyah, dia durhaka kepada ibunya karena isterinya selalu menghalangi untuk berbuat baik kepada ibunya, sehingga ibunya mengungkapkan kepedihan hati dalam sebuah syair:

Saya mengasuhnya di masa kecil tatkala masih seper-ti anak burung, sementara induknya yang menyuapi makanan dan melihat kulitnya yang masih baru tumbuh.

Setelah dewasa dia merobek pakaianku dan me-mukul badanku, apakah setelah masa tuaku aku harus mengajari etika dan adab.

Dan juga Yahya bin Yahya bin Said, suatu ketika dia pernah menyusahkan bapaknya lalu bapaknya meng-hardiknya dengan menulis syair:

Semenjak lahir dan masa bayi yang masih kecil aku mengasuhmu, dan saya selalu berusaha agar engkau menjadi orang tinggi dan berkecukupan.

Di malam hari engkau mengeluh sakit hingga tidak bisa tidur. Keluhan itu membuatku gundah dan ketakutan.

Jiwa selalu gelisah memikirkan keselamatan untuk dirimu, sebab aku tahu setiap jiwa terancam oleh ke-matian.

Contoh-contoh di atas merupakan sebagian dari beberapa kasus anak durhaka kepada kedua orang tua-nya yang terjadi pada masa lampau dan sekarang.

Dan di dalam sebagian lagu-lagu masyarakat jahili-yah dahulu, yang sering para wanita lantunkan adalah: Ya Allah, apa yang harus saya perbuat terhadap anakku yang durhaka, di masa kecil aku dengan susah payah membesarkannya, setelah menikah dengan seorang putri Romawi dia berbuat semena-mena terhadapku. Wanita ini mengadu kepada Allah terhadap sikap anaknya yang telah diasuh dengan susah payah, tetapi setelah menikah dengan wanita nasrani Romawi, dia melupakan ibunya.

Adapun contoh orang-orang yang berbuat baik kepada orang tua antara lain; cerita tiga orang yang terjebak dalam gua, di antara mereka ada yang mengata-kan: "Tidak ada cara yang mampu menyelamatkan kalian kecuali bertawassul dengan amal shalih kalian. Seorang di antara mereka berdo'a: "Ya Allah saya mempunyai dua orang tua yang lanjut usia dan saya sekeluarga tidak makan dan minum di malam hari sebelum mereka berdua, pada suatu saat saya pernah pergi jauh untuk suatu keperluan sehingga saya pulang terlambat dan sesampainya di rumah saya mendapatkan mereka berdua dalam keadaan tidur. Lalu saya memerah susu untuk malam itu, tetapi mereka berdua masih tetap tidur pulas, sementara saya tidak suka jika makan dan minum sebelum mereka. Akhirnya saya menunggu sambil memegang susu hingga mereka berdua ter-bangun, sampai fajar terbit mereka berdua baru bangun lalu meminum susu. Ya Allah jika perbuatan yang telah aku kerjakan tersebut termasuk perbuatan ikhlas karena mencari wajahMu, maka hilangkanlah kesulitan kami dari batu besar ini, lalu batu itu pun bergeser dari mulut gua.

Masih banyak contoh-contoh lain tentang orang-orang yang berbakti kepada orang tua baik di masa lampau maupun sekarang yang tidak mungkin kita ceritakan seluruhnya, kebaikan tersebut mereka per-sembahkan kepada orang tua sebagai balasan atas jasa-jasa, perhatian dan pemeliharaan mereka dan sebagai bukti pengakuan tulus dan akhlak mulia. Ini semua mengharuskan kepada setiap anak untuk mengingat kebaikan yang selalu mengalir tak ada hentinya hingga akhir hayat.

Sebagian orang-orang shalih sebelum berangkat kerja ada yang menyempatkan diri singgah ke rumah orang tuanya sambil mencium tangannya untuk memin-ta restu dan menanyakan keadaan serta kesehatan mereka. Lalu berangkat ke tempat kerja. Sikap mulia dan terpuji ini, sangat baik jika dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat.

Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hu-rairah bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Celakalah, celakalah". Beliau ditanya: "Siapa wahai Rasulullah? Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seseorang yang mendapati orang tuanya, dan salah satu atau keduanya berusia lanjut, kemudian tidak masuk Surga".

Dari Abdullah bin Umar berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tiga orang tidak masuk Surga dan tidak dilihat Allah pada hari Kiamat; Orang yang durhaka kepa-da orang tua, wanita yang menyerupai laki-laki dan dayyuts. (HR. Ahmad)

Durhaka kepada orang tua adalah perbuatan zhalim besar dan sikap tidak tahu diri.

Rasulullah yang mengajari umat manusia etika dan tata krama mengetahui kedudukan dan fungsi seorang ibu dan bapak kemudian memberikan petunjuk kepada setiap orang mukmin agar menjadi umat yang bertang-gung jawab.

Di antara bentuk birrul walidain setelah orang tuanya meninggal adalah dengan menyambung hubung-an kerabat dengan teman dan sahabat orang tuanya.

Dari Abdullah bin Umar berkata sesungguhnya saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya perbuatan yang terbaik adalah me-nyambung hubungan kerabat dengan sahabat orang tuanya". (Shahihul Jami', Al-Albani)

Bukti cinta dan berbakti kepada orang tua adalah menghormati dan menjaga hubungan persahabatan orang tua dengan teman-temannya. Pada saat seseorang mempererat hubungan persahabatan dengan teman bapaknya, merupakan bukti dalam berbakti kepada orang tua dan pertanda hasil baik pendidikan orang tua kepada anak.

Imam Muslim dalam kitab shahihnya menyebutkan tentang bab keutamaan menyambung hubungan persa-habatan dengan teman-teman bapak atau ibu. Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya perbuatan yang terbaik adalah menyambung hubungan persahabatan dengan saha-bat orang tuanya".

Dan juga hadits tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam meng-hormati teman-teman Khadijah setelah wafatnya.

Para ulama mengatakan bahwa al-birr bermakna menyambung silaturrahim, menyayangi dan berbuat ke-baikan serta menjaga persahabatan. Seluruhnya termasuk bagian inti kebaikan. (Kholid Ar Rasyid)

Sumber : segala sumber 
image : kontakzakat.org

Thursday, November 19, 2015

Masih ragukah dengan AL-Qur`an.............

Standard
RAHASIA ILMIAH ANGKA 57  DALAM SURAT AL-HADID..
Dalam Al-Quran surat  yang  57  bernama al-Hadid,
g banyak di bumi. Namun menurut buku The Origin of Elements and Life of Star karya Donald Clayton, angka 57 adalah berat isotop besi berproporsi stabil yang terlihat di sistim tatasurya. Angka 57 merupakan urutan surat al-Hadid.

RICHARD DAVIS MENERJEMAHKAN KEBENARAN AL-QUR`AN
Dalam QS. Ar-Rahman: 9-21 disebutkan bahwa bila dua lautan bertemu, maka akan ada penghalang atau batas. Dulu ayat ini dipertentangkan, karena dianggap tidak sejalan dengan teori fisika yang menyebutkan bahwa zat asin akan mudah larut dengan sesama zat asin. Namun ilmuan barat, Richard Davis menemukan fakta ilmiah lain. Air pada suatu laut tidak becampur dengan air laut lainnya. Ikan di samudra Atlantik tidak akan masuk ke laut Mediterania, begitu juga sebaliknya. Hal ini terbukti dengan fakta bahwa jika ikan dari satu laut di masukan ke laut lain, maka ikan itu akan mati.

AL-QUR`AN MENGUNGKAP TEORI TALI (STRING THEORY) ALAM
 Dalam QS. Az-Zaariyaat: 7-8 di jelaskan bahwa langit memiliki tali-tali (hubuk). Pernyataan AL-Quran ini membuka tabir ilmu pengetahuan Alan Boyle dalambukunya A Younge, Lighther Cosmos, menyebutkan bahwa jaring laba-laba dalam alam raya pada materi gelap telah terdeteksi pada level galaksi atau pada level gugus galaksi.teknik pengamatan bagian langit menunjukanjaringan kemerah-merahan pada materi gelap yang tidak bisa Diamati secara langsung. Namun, jaringan tersebut dapat “terlihat” melalui dampak gravitasi terhadap cahaya.

COPERNICUS DAN GALILEO MENEGASKAN KEBENARAN AL`QUR`AN
 Dulu, kaum Gereja Romawi memntang pendapat bahwa bumi itu bulat. Karena, hali itu bertentangan dengan Al-Kitab. Namun, Copernicus (w 1543) dan Galileo (w 1642) menentang hal itu. Mereka perpandangan bahwa bumi itu bulat. Namun jauh hari sebelum kedua fisikawan itu muncul, Al-Qur`an lebih dahulu berbicara soal itu. Hal ini dapat di lihat dalam penjelsan Q.S. Az-Zaariyaat: 48, Q.S. An-Nuh: 19, dan Q.S. Az-Zumar:5. Namun,uniknya, meskipun bumi itu bulat, Al-Qur`an menyebutnya bahwa bulatnya itu tidak benar-benar bulat. Hal ini juga di benarkan secara ilmiah (Q.S. An-Nazi`aat: 30).

IHWAL PENCIPTAAN SEMUA CAHAYA DI ALAM SEMESTA
 Al-Khatib Abu al-Rabi Muhammad bin Lays dalam bukunya Syifa al-Shudur menegaskan bahwa yang pertama di ciptakan Allah adalah cahaya Muhammas saw. Lalu, cahaya itu bersujud kepada Allah. Allah kemudian membagi cahaya itu menjadi emat bagian; pertama terciptanya Arasy; kedua terciptanya pena; ke tiga terciptanya Loh; dan yang ke empat di bagi lagi menjadi emapat bagian sehingga terciptalah segala kreasi Allah yang lain. Jadi, cahaya Arsy, cahaya Loh, cahaya Matahari, cahaya Ilmu Pengetahuan, cahaya Bulan, dan cahaya pandangan mata berasal dari cahaya Nabi.

TEORI BIG BANG (LEDAKAN BESAR) DI BENARKAN AL-QUR`AN
 Teori awal terbentuknya alam semesta bermula dari sebuah ledakan besar, yang di kenal dengan Big Bang, yaitu teori yang kini telah di sepakati oleh para ilmuwan secara umum. Berabad-abad sebelun teori Big Bang, Al-Qur`an menegaskan bahwa langit dan alam semesta terus mengembang, sebagi tanda besarnya kekuasaan Allah. Dari kenihilan, ax nihilo, lahirlah alam raya seperti yang di tegaskan Imam Gazali dalam Kitab Tahafut al-Falasafah. Gazali menegaskan bahwa alam semesta muncul pada titik masa tertentu ketika Allah menghendaki kemunculannya (Q.S. Yasin; 82).

ALLAH MENCIPTAN SEMESTA ITU SATU...
Q.S. Al-Anbiya; 30. “Tidakkah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa sesungguhnya langit dan bumi itu asalnya satu ? Kemudian Kami mamisahkannya.” Sesuai dengan ilmu pengetahuan yang mengatakan bahwa bumi dan semua benda angkasa itu asalnya bersatu yang berasal dari bersatunya partikel-partikel kecil, dan setelah bersatu terus memadat, dan kemudian terpisah-pisah kembali menjadi semua benda angkasa ini.
Q.S. Yunus; 5,  “Dia (Allah) menjadikan matahari bersinar (sebagai sumber cahaya)  dan bulan bercahaya (memantulkan sinar seperti cermin dan Dia (Allah) menetapkan tempat-tempat perjalannya (garis edar) agar kamu mengetahui bilangan tahun dan hitungan-hitungan hisab (astronomi).”

Taqwa Adalah Kemuliaan Hakiki

Standard







firman Allah I:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al-Hujuraat:13)
Manusia mengenal kabilah dan nenek moyang mereka dan bersandar kepada mereka untuk dikenal, bukan untuk membanggakan diri dan merasa mulia, karena sesungguhnya kebanggaan adalah dengan taqwa kepada Allah I. Diriwayatkan dalam sebuah hadits:
قال رسول الله e : ((لاَفَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ وَلاَ لِأَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى))
Rasulullah e bersabda: "Tidak ada keutamaan bagi bangsa arab atas bangsa ajam (non arab), dan tidak ada keutamaan bagi yang berkulit hitam atas yang berkulit merah kecuali dengan taqwa."[1]
Dan Nabi e pernah ditanya: 'Manusia bagaimanakah yang paling mulia? Beliau menjawab: 'Yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa dari mereka." kemudian:
قال رسول الله e : ((خِيَارُكُمْ فِى الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِى اْلإِسْلاَمِ إِذَا فَقُهُوْا))
Rasulullah e bersabda: 'Sebaik-baik kamu di masa jahiliyah adalah sebaik-baik kamu di masa Islam apabila mereka paham.'[2]
Pengertian yang demikian itu: Sesungguhnya orang-orang yang dipuji di masa jahiliyah dengan sifat pemurah dan pemberani, keutamaan dan kebaikan, serta memberi manfaat secara umum apabila mereka paham di dalam agama Islam, maka ia adalah sebaik-baik manusia, melebihi yang di bawah mereka seperti orang bakhil (pelit), penakut dan berakhlak buruk.
          Abu Daud dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah t, ia berkata:
قال رسول الله e : ((لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَفْتَخِرُوْنَ بِآبَائِهِمُ الَّذِيْنَ مَاتُوْا, إِنَّمَا هُمْ فَحْمٌ مِنْ فَحْمِ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُوْنُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللهِ مِنَ الْجُعَلِ الَّذِي يُدَهْدِهُ الْخِرَاءَ بِأَنْفِهِ, إِنّ اللهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبَيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالْآباَءِ, إِنَّمَا هُوَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ أَوْ فَاجِرٌ شَقِيٌّ, اَلنَّاسُ كُلُّهُمْ بَنُوْ آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ))
Rasulullah e bersabda: 'Hendaklah semua kaum berhenti membanggakan diri dengan bapak-bapak (nenek moyang) mereka yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya mereka adalah arang dari arang neraka jahanam atau (bila mereka tidak berhenti dari hal itu) mereka menjadi lebih hina di sisi Allah I dari pada ju'l (nama binatang sejenis kumbang) yang membolak-balik kotoran dengan hidungnya. Sesungguhnya Allah I telah menghilangkan darimu kesombongan masa jahiliyah dan kebanggaan dengan bapak-bapak. Sesungguhnya ia adalah seorang mukmin yang bertaqwa atau seorang fasik yang celaka. Semua manusia adalah keturunan Adam u dan Adam u berasal dari tanah.[3]
At-Tirmidzi meriwayatkan dari Samurah t, ia berkata:
قال رسول الله e : ((الْحَسَبُ الماَلُ وَالْكَرَمُ التَّقْوَى))
Rasulullah e bersabda: 'Kemuliaan (keturunan) adalah harta dan kemuliaan (yang sebenarnya) adalah taqwa."[4]
Dari Watsilah t, ia berkata: Aku berkata: Ya Rasulullah, apakah 'ashabiyah itu? Beliau menjawab:
قال رسول الله e : ((أَنْ تُعِيْنَ قَوْمَكَ عَلَى ظُلْمٍ ))
Rasulullah e bersabda: 'Engkau menolong kaum engkau di atas perbuatan zalim."[5]
Dan beliau juga bersabda:
قال رسول الله e : ((لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ, وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ, وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ ))
Rasulullah e bersabda: 'Bukan termasuk dari golongan kami orang yang mengajak kepada 'ashabiyyah (kesukuan, fanatisme), bukan termasuk golongan kami orang yang berperang berdasarkan kesukuan, dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati di atas dasar kesukuan."[6]
          Imam Ahmad meriwayatkan dari Uqbal bin Amir t:
قال رسول الله e : ((لَيْسَ لِأَحَدٍ عَلَى أَحَدٍ فَضْلٌ إِلاَّ بِدِيْنٍ وَتَقْوَى ))
Rasulullah e bersabda: 'Tidak ada keutamaan seseorang atas orang lain kecuali dengan agama dan taqwa."[7]
          Tidak diragukan lagi bahwa membanggakan diri dengan nenek moyang tidak berguna sedikitpun bagi anak cucu apabila mereka tidak berilaku seperti bapak-bapak mereka, sebagaimana dikatakan penyair:
          Apabila engkau merasa bangsa dengan kaum yang telah terdahulu
Kami katakan: engkau benar, akan tetapi seburuk-buruk yang telah mereka lahirkan.[8]
          Diriwayatkan dari Ja'far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bahwa suatu ketika ia menangis karena takut kepada Allah I hingga pingsan, (setelah ia sadar) salah seorang muridnya berkata kepadanya: 'Sesungguhnya engkau dari keturunan nabi e'. Maka ia mengabarkan bahwa Allah I mengangkat derajat setiap orang yang taqwa sekalipun ia adalah seorang budak dari Habasyah (Ethiofia), dan (sebaliknya) Dia I merendahkan derajat setiap orang yang durhaka (maksiat) sekalipun ia adalah seorang syarif dari suku Quraisy. Dan dari hal itu, penya'ir berkata:
          Islam mengangkat derajat Salman al-Farisi
Dan syirik telah menghinakan orang yang celaka Abu Lahab.

          Pertanyaan kedua 2: Apakah hukumnya menurut syara' tentang 'urf  (adat istiadat, istilah, pandangan umum) yang ada di dalam masyarakat Yaman berupa pembagian strata sosial masyarakat Yaman dengan tidak saling menikahkan di antara golongan masyarakat. Sayyid (syarif) tidak menikahkan (putrinya) kecuali dengan sayyid. Demikian pula qabiliy, ia tidak menikahkan (putrinya) dengan orang yang di bawahnya. Sekalipun yang melamar adalah orang yang shalih? Sebagaimana kami mengharapkan penjelasan mengenai pengertian kafa'ah dalam menikah?
          Jawaban 2'Urf ini sangat terkenal di Yaman, demikian pula pada suku-suku di Najd. Dan yang mereka maksudkan kabilah-kabilah adalah yang dikenal bahwa mereka berasal dari kabilah-kabilah arab. Mereka tidak mengawini dan tidak mengawinkan (putri-putri) dengan mawali, yaitu orang yang bapak-bapak dan nenek moyang mereka berasal dari budak kemudian merdeka. Mereka berdalil dengan keutamaan bangsa arab dan terkadang mengambil dalil dengan hadits dha'if yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya Bulughul Maram dan lafazhnya:
قال رسول الله e : ((العَرَبُ بَعْضُهُمْ أَكْفَاءُ بَعْضٍ وَالْمَوَالِي بَعْضُهُمْ أَكْفَاءُ بَعْضٍ إِلاَّ حَائِكًا أَوْ حَجَّامًا))
Rasulullah e bersabda: "Arab sekufu' (sederajat) satu sama lain, dan mawali sekufu' satu sama lain kecuali tukang tenun dan tukang bekam."[9]
Akan tetapi hadits tersebut tidak tsabit (dha'if, lemah), dan ada hadits yang bertentangan dengan hadits tersebut, di mana Nabi e menikahkan Zaid bin Haritsah t dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu 'anha,[10] dan beliau e menikahkan Usamah t dengan Fathimah binti Qais radhiyallahu 'anha, serta selain yang demikian itu. Para fuqaha (ahli fikih) menyebutkan bahwa kafa'ah bukan merupakan syarat sahnya pernikahan, kecuali jika pada salah seorang dari suami istri ada yang mencela pada kemuliaannya atau sum'ahnya. Dan atas dasar itulah dibawakan yang diriwayatkan dari Umar t bahwa ia berkata: 'Aku sungguh melarang wanita yang mempunyai derajat/kedudukan untuk menikah kecuali dari yang sekufu'.[11] Maka jika suami tercela atau fakir atau profesinya rendah seperti tukang sampah, maka sesungguhnya dalam menikahkannya dengan wanita yang mempunyai kemuliaan dan ketenaran merupakan kekurangan atasnya dan terhadap sukunya. Seperti inilah yang disebutkan oleh para fuqaha.

          Pertanyaan 3: Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya tentang hukum mengagungkan Ahlul Bait hingga kepada derajat mensucikan, beliau menjawab:
          Jawaban 3: Nabi e telah melarang orang yang mengagungkannya, sebagaimana diriwayatkan bahwa seseorang berkata kepada beliau e: 'Wahai sebaik-baik manusia'. Beliau e bersabda: 'Itu adalah Ibrahim u.'[12] Dan beliau bersabda:
قال رسول الله e : ((لاَتَطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ, فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا: عَبْدُاللهِ وَرَسُوْلُهُ))
"Janganlah kamu mengagungkan aku sebagaimana Nashrani mengagungkan Ibnu Maryam u. Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya, maka katakanlah: hamba Allah I dan rasul-Nya.'[13]
Dan beliau e selalu bersifat tawadhu' dan bersabda:
قال رسول الله e : ((إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ أَجْلِسُ كَمَا يَجْلِسُ الْعَبْدُ وَآكُلُ كَمَا يَأْكُلُ الْعَبْدُ))
"Sesungguhnya aku adalah seorang hamba (budak), aku duduk sebagaimana hamba duduk dan aku makan sebagaimana hamba makan."[14]
Dan tatkala sebagian bangsa arab menampakkan wibawa beliau e, beliau melarangnya dari hal itu dan bersabda:
قال رسول الله e : ((إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ تَأْكُلُ الْقَدِيْدِ))
"Sesungguhnya aku adalah anak seorang wanita dari suku Quraisy yang memakan dendeng."[15]
Dan beliau e memilih bahwa ia adalah hamba dan rasul, semua itu menunjukkan bahwa beliau menyukai sifat tawadhu'.
          Demi umurmu, tiadalah manusia kecuali dengan agamanya
Maka janganlah engkau meninggalkan taqwa karena berpegang kepada nasab.[16]

          Pertanyaan 4: Sebagian orang yang mengaku dari Ahlul Bait berpandangan bahwa mereka lebih tinggi derajatnya dari selain mereka. Mereka merasa lebih tinggi dari manusia dan tidak menunaikan ibadah. Mereka merasa bahwa hal ini tidak membahayakan mereka, karena kaum muslimin selalu mendoakan mereka dalam shalat di mana terhadap shalawat kepada nabi e dan ahlu baitnya. Apakah pengakuan mereka ini benar?
          Jawaban 4:
قال رسول الله e : ((لاَفَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ وَلاَلِأَسْوَدَ عَلَى أَبْيَضَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى))
Rasulullah e bersabda: "Tidak ada keutamaan bagi bangsa arab atas bangsa ajam (non arab), dan tidak ada keutamaan bagi yang berkulit hitam atas yang berkulit putih kecuali dengan taqwa."
Maka barangsiapa bertaqwa lagi shalih maka ia mempunyai keutamaan dan pahala, sekalipun ia adalah seorang hamba dari Habasyah (Ethiofia), dan barangsiapa yang maksiat atau kafir atau ahli bid'ah maka ia adalah orang yang celaka, keluar dari taat sekalipun ia seorang syarif dari suku Quraisy. Karena itulah penya'ir berkata:
          Demi umurmu, tiadalah manusia kecuali dengan agamanya
Maka janganlah engkau meninggalkan taqwa karena berpegang kepada nasab.
          Islam mengangkat derajat Salman al-Farisi
Dan syirik telah menghinakan orang yang celaka Abu Lahab.
          Apabila seperti itu, maka orang-orang yang mengaku berasal dari ahlul bait, mereka tidak bisa mendapatkan kemuliaan, keutamaan dan ketinggian derajat dengan hal itu kecuali dengan taqwa, berdasarkan firman Allah I:
قال الله تعالى: ﴿ (#þqè=Åz÷r& tA#uä cöqtãöÏù £x©r& É>#xyèø9$# ÇÍÏÈ ﴾
"Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya kedalam azab yang sangat keras". (QS. Ghafir:46)
Mereka adalah para pengikut agamanya. Karena itulah penya'ir berkata:
          Keluarga nabi adalah para pengikut agamanya
Orang yang berasal bangsa ajam dari mereka dan dari arab
          Jikalau keluarga beliau hanyalah kerabatnya saja
Niscaya orang shalat mengucap shalawat kepada yang zhalim Abu Lahab
          Maka tidak boleh berbangga diri dengan bapak-bapak dan nenek moyang, tidak ada yang bermanfaat kepada manusia selain amalnya. Jika bangsa Yahudi yang mengaku bahwa mereka adalah dari keturunan Israel yaitu nabi Ya'qub u seorang nabiyullah anak nabi (Ishaq u) dan anak Khalilullah Ibrahim u. Kendati demikian nasab ini tidak berguna bagi mereka. Dan kaum muslimin di dalam ucapan mereka (Ya Allah, berilah rahmat kepada nabi Muhammad dan alu Muhammad), mereka menghendaki dengan hal itu para pengikut beliau di atas agamanya, atau maksudnya orang yang shalih dari keluarganya. Dan tidak masuk dalam hal itu orang yang kafir dan yang maksiat dari mereka dari generasi dahulu hingga yang terakhir.



[1]  HR. Ahmad dalam Musnad 5/411, al-Baihaqi dalam Syu'abul iman 4774. al-Haitsami berkata dalam Majma' 3/266: Diriwayatkan oleh Ahmad dan perawinya shahih. Dan hadits tersebut dalam riwayat Thabrani dalam al-Kabir 18/12 (16) dengan lafazh (dan tidak ada keutamaan bagi yang berkulit hitam atas yang berkulit putih...'

[2] HR. al-Bukhari 4689 dan athrafnya 3353 dan Muslim 2378.

[3] HR. Abu Daud (5116) dengan semisalnya, ati-Tirmidzi 3955 dengan sedikit perbedaan dan ia berkata: Hadits hasan gharib. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Albani.

[4]  HR. Ahmad 5/10, at-Tirmidzi 3271 dan ia berkata: Hadits gharib shahih, Ibnu Majah 4219, ath-Thabrani dalam al-Kabir6912,6913, ad-Daraquthni3/302 (208,209), al-Hakim2/163 (2690) dan 4/320 (7922), ia menshahihkannya dan disepakati olah adz-Dzahabi.

[5]  HR.  Abu Daud 5119, Abu Ya'la 7492ath-Thabrani dalam al-Kabir193, 236, al-Baihaqi dalam al-Kubra 20865 dan ia adalah hadits hasan. Lihat: al-Adabusy Sya'riyah karya Ibnu Muflih 1/81 dan didha'ifkan oleh Albani.

[6]  HR. Abu Daud 5121 dihasankan oleh Ibnu Muflih dalam al-Adaab 1/81 dan didha'ifkan oleh Albani.

[7]  HR. Ah,ad 4/158, ath-Thabrani dalam al-Kabir 17/295 (814), al-Baihaqi dalam Syau'abul Iman 4783, dishahihkan oleh Albani sebagaimana dalam Silsilah Shahihah 1038.

[8]  Bait syair disandarkan kepada Ibnu Rumi dengan lafazh:
Sungguh jika engkau merasa bangga dengan bapak-bapak yang mempunyai kedudukan/pangkat
Sungguh engkau benar akan tetapi seburuk-buruk yang telah mereka lahirkan.

[9]  HR. Ibnu Adi dalam al-Kamil 5/95, 208, al-Baihaqi dalam al-Kubra 13547, 13549. lihat: Faidhul Kabir 4/379 dan Nailul Authar 6/262.

[10]  Diriwayatkan oleh Ibnu Jarib ath-Thabari dalam tafsirnya: 20/272-272 saat menafsirkan ayat 36 dari surah al-Ahzab.
[11]  Disebutkan oleh Syaikhul Islam dalam Majmu' Fatawa 19/28.
[12]  HR. Muslim 2369 dan selainnya.
[13]  HR. al-Bukhari 3445, 6830.
[14]  HR. Ibnu Sa'ad dalam Thabaqat 1/381, Abu Ya'la dalam Musnadnya 4920. al-Haitsami berkata dalam Majma': 9?19: diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan isnadnya hasan. Dan ia mengeluarkan dengan tambahan 'sesungguhnya aku adalah hamba. Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman 5572 dari Yahya bin Abi Katsir secara mursal..
[15]  HR. Ibnu Majah 3312, ath-Thabrani dalam al-Ausath 1260, al-Hakim dalam al-Mustadrak 2/466, 3733 dan 3/48 (4366) dan ia menshahihkannya dan disetujui oleh adz-Dzahabi.
[16]  Bait tersebut disandarkan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib t dan bagi Shahib ibnu Abbad juga. Dan di sisinya: 'I'timadan' di tempat 'ittikaalan'.